Tuesday, 2 September 2014

Distance



day after day ..
you got me going crazy ..
i hear your voice on the line
but it doesnt take the paint ..
but i cant get near you now ..

#temanggung-bogor

With You






i try to be what you want ...
and what you need ..
keep you in my arm ..
#my_fugu_embull

My Boy




every song i sing i sing for you ...
every pleace i go i think of you ..
im never meant to hurt you ,..
i wanna keep you beside me ..
thanks for being patient ..
thanks for love that you always give to me ..

Thursday, 16 January 2014

7 Hal Unik Akibat Cuaca Dingin Ekstrem


Cuaca dingin ekstrem belum beranjak dari kawasan Amerika Utara. Kanada dan Amerika Serikat adalah dua negara yang paling parah terkena imbas akibat pergeseran pusaran angin dingin dari Kutub Utara yang dikenal sebagai polar vortex.

Suhu dingin hingga puluhan derajat Celsius di bawah nol bahkan mampu menewaskan sejumlah warga. Seperti dikutip dari Livescience dan Dailymail, Kamis, 9 Januari 2014, suhu ekstrem dingin rupanya juga bisa menyebabkan hal-hal unik seperti berikut.


1. Lidah menempel di tiang besi



Lidah menempel di tiang membeku bukan isapan jempol. Penyebabnya, panas dalam lidah akan terserap jika ditempelkan ke benda yang lebih dingin. Saat panas terserap, tubuh akan bekerja menghangatkan bagian lidah yang mendingin.

Namun logam beku punya konduktivitas panas tinggi. Artinya, logam beku menyerap panas di lidah lebih cepat ketimbang kemampuan tubuh mengembalikan panas di area itu. Efeknya, kelembapan di lidah ikut membeku dan membuatnya menempel di logam.


2. Serpihan es dalam minuman bersoda


Air membeku pada suhu nol derajat Celsius. Namun minuman soda dan alkohol punya titik beku yang lebih rendah. Alkohol murni bahkan baru membeku pada suhu minus 114 derajat Celsius.

Membuka minuman bersoda atau alkohol yang disimpan pada suhu ekstrem dingin akan menciptakan serpihan kristal seperti es serut. Ini disebabkan oleh pelepasan gelembung karbon dioksida di dalam minuman bersoda.


3. Mengubah air panas menjadi salju


Molekul udara dingin sangat rapat. Ketika air panas dilemparkan ke udara ekstrem dingin yang kering, tidak ada tempat tersisa untuk molekul uap air. Akibatnya, molekul uap air mengendap dengan mengikat partikel mikroskopis di udara, seperti sodium atau kalsium, dan membentuk kristal es.

Inilah yang terjadi pada butir-butir salju yang turun saat musim dingin. Namun trik mengubah air panas menjadi kristal es hanya bisa terjadi saat suhu lebih rendah dari minus 34 derajat Celsius.


4. Membuat ban kempes


Banyak ban kendaraan kempes dalam suhu udara ekstrem dingin. Penyebabnya adalah penurunan tekanan udara. Pada suhu ekstrem, udara dingin di dalam ban berkontraksi yang menyebabkan penurunan tekanan udara. Ban akan kehilangan tekanan 1 psi tiap terjadi penurunan suhu sebesar 12 derajat Celsius.

Dampaknya, bagian ban yang bersentuhan dengan aspal akan menciut meski sisi atas terlihat baik-baik saja. Kondisi ini biasanya pulih sendiri setelah ban menghangat saat kendaraan meluncur. Namun ban kempes sulit pulih ketika suhu udara jatuh di bawah minus 34 derajat Celsius.


5. Gempa es


Gempa ini terjadi akibat penurunan suhu udara drastis di bawah nol derajat Celsius dalam tempo cepat. Proses pembekuan kilat itu menyebabkan es mengembang dan pecah, menimbulkan suara keras. Fenomena ini dikenal sebagai cryoseism dan beberapa kali terjadi di Kanada pada musim dingin.

Gempa beku ini biasanya terjadi di permukaan. Efeknya bersifat lokal dan tidak berbahaya. Guncangan dari retakan es ini jarang sekali terbaca oleh alat deteksi gempa bumi.

Hal serupa dalam skala lebih kecil umum terjadi pada lapisan es di danau dan sungai membeku. Cryoseism dilaporkan pernah terjadi di wilayah timur laut dan tengah bagian barat Amerika Serikat serta Alaska.


6. Katak pohon membeku


Katak pohon di wilayah Amerika Utara bisa nyaris beku total dalam suhu udara ekstrem dingin. Ini adalah bentuk mekanisme adaptasi katak. Sebagai hewan berdarah dingin, temperatur tubuh katak ikut turun saat suhu sekitar anjlok.

Untuk mencegahnya mati membeku, hati katak mengubah senyawa glikogen menjadi glukosa yang dialirkan dalam darah. Glukosa di dalam darah itu berperan seperti bahan anti-pembekuan.

Katak lantas berhibernasi meski tubuhnya membeku. Kondisi hibernasi ini bertahan hingga suhu udara berangsur menghangat. Jantung katak kembali berdetak dan binatang itu kembali aktif seperti semula.


7. Gelembung sabun membeku


Gelembung air sabun indah dipandang, tapi tak tahan lama. Ketika suhu turun hingga minus 11 derajat Celsius, gelembung sabun akan ikut membeku bahkan saat melayang di udara. Pada gelembung beku utuh bisa terlihat cetakan motif kristal atau pola seperti cangkang telur retak.


Sumber :
apa kabar dunia























Friday, 22 November 2013

Komposisi Daging

Composition of meat
Meat is defined by the Codex Alimentarius as “All parts of an animal that are intended for, or have been judged as safe and suitable for, human consumption”. Meat is composed of water, protein and amino acids, minerals, fats and fatty acids, vitamins and other bioactive components, and small quantities of carbohydrates.
Nutritional composition of meats and other food sources per 100g**        
Product
Water
Protein
Fat
Ash
KJ*
Beef (lean)
75.0
22.3
1.8
1.2
116
Beef carcass
54.7
16.5
28.0
0.8
323
Pork (lean)
75.1
22.8
1.2
1.0
112
Pork carcass
41.1
11.2
47.0
0.6
472
Veal (lean)
76.4
21.3
0.8
1.2
98
Chicken
75.0
22.8
0.9
1.2
105
Venison (deer)
75.7
21.4
1.3
1.2
103
Beef fat (subcutaneous)
4.0
1.5
94.0
0.1
854
Pork fat (back fat)
7.7
2.9
88.7
0.7
812
























**Meat processing technology for small- to medium-scale producers (FAO 2007)
* Kilojoules
From the nutritional point of view, meat’s importance is derived from its high quality protein, containing all essential amino acids and it’s highly bio available minerals and vitamins. Meat is rich in Vitamin B12 and iron which are not readily available in vegetarian diets.

Sunday, 19 May 2013

Zat Pewarna Makanan




Zat pewarna makanan adalah zat warna yang dicampurkan kedalam makanan. Menurut Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988, zat pewarna makanan adalah bahan tambahan makanan yang dapat memperbaiki atau memberi warna pada makanan.
Menurut Winarno (1997), yang dimaksud dengan zat pewarna makanan adalah bahan tambahan makanan yang dapat memperbaiki atau memberi warna pada makanan. Penambahan warna pada makanan dimaksudkan untuk memperbaiki warna makanan yang berubah atau menjadi pucat selama proses pengolahan atau untuk memberi warna pada makanan yang tidak berwarna agar kelihatan lebih menarik.
Kualitas bahan makanan ditentukan antara lain oleh cita rasa, warna, tekstur dan nilai gizi. Akan tetapi sebagian besar konsumen sebelum mempertimbangkan cita rasa dan nilai gizi akan lebih tertarik pada tampilan atau warna makanan serta pengolahan bahan makanan (Saparinto, 2006).
Jenis Zat Pewarna Makanan
Secara garis besar, berdasarkan sumbernya dikenal dua jenis zat pewarna makanan yang termasuk dalam golongan bahan tambahan pangan yaitu (Hidayat, 2006):
Pewarna Alami
Banyak warna cemerlang yang dipunyai oleh tanaman dan hewan dapat digunakan sebagi pewarna untuk makanan. Beberapa pewarna alami ikut menyumbangkan nilai nutrisi (karotenoid, riboflavin, dan kobalamin), merupakan bumbu (kunir dan paprika), atau pemberi rasa (karamel) ke bahan olahannya (Cahyadi, 2009).
Pewarna makanan tradisional menggunakan bahan alami, misalnya kunyit untuk warna kuning, daun suji untuk warna hijau, dan daun jambu atau daun jati untuk warna merah. Pewarna alami ini aman untuk dikonsumsi namun mempunyai kelemahan, yakni ketersediaan bahannya yang terbatas dan warnanya tidak homogen sehingga tidak cocok digunakan industri makanan dan minuman. Penggunaan bahan alami untuk produk misal akan membuat biaya produksi menjadi lebih mahal dan lebih sulit karena sifat pewarna alami tidak homogen sehingga sulit menghasilkan warna yang stabil (Syah, 2005).
Umumnya pewarna alami aman untuk digunakan dalam jumlah yang besar sekalipun, berbeda dengan pewarna sintetis yang demi keamanan penggunaannya harus dibatasi (Yuliarti, 2007).
Pewarna Sintetis
Di negara maju, suatu zat pewarna buatan harus melalui berbagai prosedur pengujian sebelum dapat digunakan sebagai pewarna pangan. Zat pewarna yang diizinkan penggunaannya dalam pangan disebut permitted color atau certified color. Zat warna yang akan digunakan harus menjalani pengujian dan prosedur penggunaannya, yang disebut proses sertifikasi. Proses sertifikasi ini meliputi pengujian kimia, biokimia, toksikologi, dan analisis media terhadap zat warna tersebut (Yuliarti, 2007).
Proses pembuatan zat warna sintetis biasanya melalui perlakuan pemberian asam sulfat ataua sam nitrat yang seringkali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun. Pada pembuatan zat pewarna organik sebelum mencapai produk akhir, harus melalui suatu senyawa antara dulu yang kadang-kadang berbahya dan seringkali tertinggal dalam hal akhir, atau terbentuk senyawa-senyawa baru yang berbahaya. Untuk zat pewarna yang dianggap aman, ditetapkan bahwa kandungan arsen tidak boleh lebih dari 0,0004 % dan timbal tidak boleh lebih dari 0,0001, sedangkan logam berat lainnya tidak boleh ada (Cahyadi, 2009).
Menurut Walford (1984), beberapa keuntungan penggunaan zat pewarna sintetis adalah:
  1. Aman
  2. Tersedia dalam jumlah yang memadai
  3. Stabilitas bagus
  4. Kekuatan mewarnai yang tinggi menjadikan zat pewarna sintetis menguntungkan secara ekonomi
  5. Daya larut bagus dalam air dan alkohol
  6. Tidak berasa dan tidak berbau
  7. Tersedia dalam berbagai bentuk
  8. Bebas bakteri
Berdasarkan kelarutannya, pewarna sintetis terbagi atas dua golongan yaitu (Cahyadi, 2009):
  1. Dyes, adalah zat pewarna yang umumnya bersifat larut dalam air, sehingga larutannya menjadi berwarna dan dapat digunakan untuk mewarnai bahan. Pelarut yang dapat digunakan selain air adalah propelin glikol, gliserin, atau alkohol, sedangkan dalam semua jenis pelarut organik, dyes tidak dapat larut.
  2. Lakes, adalah zat pewarna yang dibuat melalui proses pengendapan dan absorpsi dyes pada radikal (Al atau Ca) yang dilapisi dengan aluminium hidrat (alumina). Lapisan alumina ini tidak larut dalam air, sehingga lakes ini tidak larut pada hampir semua pelarut.
Zat Pewarna Makanan yang Diizinkan
Di Indonesia, peraturan mengenai penggunaan zat pewarna yang diizinkan dan dilarang untuk pangan diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 722/Menkes/Per/IX/1988 tentang bahan tambahan pangan.
Dampak Zat Pewarna Makanan Terhadap Kesehatan
Pemakaian zat pewarna makanan sintetis dalam makanan walaupun mempunyai dampak positif bagi produsen dan konsumen, diantaranya dapat membuat suatu makanan lebih menarik, meratakan warna makanan, dan mengembalikan warna dari bahan dasar yang hilang atau berubah selama pengolahan, ternyata dapat pula menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan dan bahkan memberikan dampak negatif terhadap kesehatan manusia.
Menurut Cahyadi (2009), beberapa hal yang mungkin memberikan dampak negatif tersebut terjadi apabila:
  1. Bahan pewarna sintetis ini dimakan dalam jumlah kecil, namun berulang.
  2. Bahan pewarna sintetis dimakan dalam jangka waktu yang lama.
  3. Kelompok masyarakat luas dengan daya tahan yang berbeda-beda yaitu tergantung pada umur, jenis kelamin, berat badan, mutu makanan sehari-hari dan keadaan fisik.
  4. Berbagai lapisan masyarakat yang mungkin menggunakan bahan pewarna sintetis secara berlebihan.
  5. Penyimpanan bahan pewarna sintetis oleh pedagang bahan kimia yang tidak memenuhi persyaratan.

Translate